Pesona Masjid Agung Banten dari Abad Belanda Hingga Asmosfer Masjid Nabawi

Jika kita mendengar kata masjid, salah satu hal yang terlintas di benak kita adalah suatu bangunan beratap kubah dengan cat putih dan bernuansa hijau. Namun, hal itu tentu tidak berlaku bagi Masjid Agung Banten.

Berbagai akulturasi yang terlihat pada bagian-bagian bangunan tersebut merupakan percampuran antara budaya Jawa, Cina, dan Eropa (Belanda) menjadi daya tarik yang semakin memikat orang-orang untuk mengunjunginya.

Masjid Agung Banten adalah masjid bersejarah dan merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia yang penuh dengan nilai seni, yang mampu berdiri kokoh dan megahnya sejak abad ke-15.

Sejarah Masjid Agung Banten

Sejarah Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten dibangun oleh oleh Sultan Maulana Hasanuddin pada tahun 1556, sultan pertama dari Kesultanan Banten sekaligus putra pertama dari Sunan Gunung Jati.

Sekitar 76 tahun kemudian, pada tahun 1632, menara setinggi 24 meter pun dibangun melengkapi kompleks masjid. Menara ini dirancang oleh seorang Cek-ban-cut seorang keturunan tionghoa. Sekitar periode yang sama, tiyamah bergaya Belanda ditambahkan ke masjid mengikuti desain Hendrik Lucaasz Cardeel, seorang keturunan Belanda yang masuk Islam.

Menara ini pun menjadi ciri khas Masjid dan sebagai simbol Banten, karena terlihat seperti mercusuar. yang dirancang untuk memancarkan cahaya dari sistem lampu dan lensa dan berfungsi sebagai bantuan navigasi bagi nahkoda kapal ataupun yang bekerja dalam bidang kemaritiman di laut atau di perairan teluk banten.

Lambang Provinsi Banten
Lambang Provinsi Banten

Serupa tapi tak sama, mercusuar di Masjid Agung Banten adalah sebuah menara masjid yang dibuat dari batu bata dengan ketinggian sekitar 25 meter dan memiliki diameter sekitar 8 meter.

Terdapat 83 buah anak tangga yang harus didaki dan harus melewati lorong berukuran satu orang dewasa apabila kita hendak naik hingga ujung menara masjid. Seperti mercusuar, dengan menaiki ujung menara kita dapat menikmati suguhan pemanfangan di sekitar masjid dan salah satunya adalah lepas pantai di sekitar masjid yang terletak sekitar 1,5 km dari area Masjid Agung Banten.

Desain Masjid Agung Banten

Tak seperti bentuk masjid pada umumnya, yang memiliki ciri khas kubah diatasnya. Masjid Banten Lama ini memiliki atap bangunan bertumpuk lima serupa dengan pagoda di Cina, dilengkapi dengan dua buah serambi yang menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama masjid. Atap bangunan tersebut melambangkan makmurnya hasil pertanian masyarakat Banten saat itu.

Ditambah dengan paviliun yang terletak di sisi selatan bangunan utama yang dinamakan Tiyamah. Paviliun tersebut berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitektur Belanda kuno karena dirancang oleh seorang arsitek kenamaan Belanda bernama Hendick Lucasz Cardeel. Ciri khas lainnya adalah gaya arsitektur Eropa yang terlihat karena adanya jendela-jendela besar pada Masjid Agung Banten.

Pada sisi lain, dibangun sebuah pendopo sebagai tempat berwudu yang berupa kolam menjadi salah satu karakteristik masjid Jawa pada umumnya. Lalu di bagian utara masjid ini, terdapat kompleks pemakaman sultan-sultan Banten serta keluarganya. Sedangkan di dalam masjid sendiri  terdapat 24 buah tiang.

Pada bagian atas ada susunan lima tiang yang dapat diartikan sebagai rukun Islam maupun waktu shalat lima waktu yang wajib dilaksanakan setiap hari. Sehingga, keduanya memiliki makna jika dalam satu hari satu malam (24 jam) umat Islam memiliki kewajiban untuk mendirikan shalat lima waktu.

Saat ini setiap harinya Masjid Agung Banten ramai dikunjungi para peziarah yang tidak hanya datang dari daerah Banten dan Jawa Barat saja, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia. Hal itu tidak lain karena Pemerintah setempat telah merevitalisasi Masjid Agung Banten.

Meskipun Pemerintah setempat tidak mengubah gaya arsitektur dan bangunan utama masjid, namun Pemerintah menambahkan konsep khas ala Masjid Nabawi di Madinah, yaitu salah satu masjid tempat ibadah wajib bagi jemaah haji maupun umroh bagi seluruh umat muslim di dunia.

Pemerintah setempat menjadikan Masjid Agung Banten sebagai salah satu destinasi wisata religi yang berada di Banten. Masjid Agung Banten sangat ramai dikunjungi oleh peziarah mayoritas beragama Islam yang biasanya datang secara kelompok atau beramai-ramai.

Hal itu karena Daerah banten juga terkenal sebagai salah satu daerah religius yang berada di Pulau Jawa. Konsep khas ala Masjid Nabawi ditandai dengan dipasanganya delapan buah payung besar dan cantik, sekilas serupa dengan payung yang ada di masjid di Nabawi Madinah.

Masjid Agung Banten terletak di desa Banten Lama, tepatnya RT/RW 001/011, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten. Selain Masjid dan menaranya, objek wisata lain di sekitar Masjid adalah:

Keraton Surosowan

Keraton Surosowan

Kraton Surosowan adalah reruntuhan istana tempat tinggal Sultan Banten. Istana ini dibangun pada tahun 1552. Tidak seperti Kaibon Kraton, hanya ada sedikit sisa di dalam keraton.

Sisa-sisa keraton yang terlihat adalah dinding sepanjang setengah sampai dua meter – dari batu merah dan batu koral – yang mengelilingi sekeliling kompleks keraton. Tata letak bangunan bekas terlihat dari tata letak pondasinya.

Salah satu peninggalan yang terlihat adalah sebuah kolam persegi panjang, yang dianggap sebagai kolam kesenangan tempat putri Banten mandi, tidak berbeda dengan kolam kesenangan Kraton Yogyakarta. Benteng ini dihancurkan oleh Belanda saat terjadi konflik dengan Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1680.

Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama (Museum Banten Lama) adalah sebuah museum yang terletak di antara Surosowan Kraton dan Masjid Agung. Museum ini menyimpan sisa-sisa arkeologi seperti vas keramik, atap, dan koin yang berkaitan dengan kota pelabuhan Banten yang bersejarah. Artefak penting lainnya adalah Meriam Ki Amuk (meriam Ottoman sepanjang 2,5 meter) dan pabrik lada batu.

Meriam Ki Amuk (meriam Ottoman)

Mengunjungi masjid ini akan membuat pengunjung merasa terpesona dengan segala kekhasan bangunan yang dibangun pada abad ke-15 sekaligus merasakan atmosfer Masjid Nabawi masa kini.

AreaIndonesia.com - 9 Oktober 2020

Reader Interactions

Tinggalkan Komentar

Terima kasih telah memilih untuk meninggalkan komentar. Harap diingat bahwa semua komentar dimoderasi sesuai dengan kebijakan komentar kami, dan alamat email Anda TIDAK akan dipublikasikan.